Negeri Penuh Perih


Saya tidak habis pikir, negeri ini entah bagaimana. Masalahnya, yang saya baca di media, terdakwa penista agama Basuki Tjahja Purnama alias Ahok bisa satu mobil dengan Presiden Joko Widodo, Kamis (23/2/2017) saat meninjau proyek MRT.

Dulu, sewaktu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bertemu dengan Tomy Soeharto di Hotel Brobudur saat yang bersangkutan disebut-sebut menjadi otak pembunuhan Hakim Agung Sjafruddin, berbagai ocehan, tudingan miring dan bahkan caci maki dikeluarkan sejumlah tokoh dan dimuat di media. Kok sekarang, yang sudah jelas terdakwa dan sedang menjalani persidangan bisa satu mobil dengan Presiden, mobil Mercy Anti Peluru RI-1. Saya tidak tahu dan tidak membaca, apakah Menteri PUPR juga ikut di dalam mobil. Kalau tidak ikut, mestinya menteri PUPR yang lebih pantas di dalam mobil dinas Presiden, mobil yang uangnya dibeli dari uang rakyat (APBN). Kalau sang menteri ikut, syukurlah.

Apakah Pak Presiden tidak merasakan itu sebagai bentuk pelecehan kepada hukum, meskipun Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Mestinya, Bapak menghindari hal itu, agar tidak semakin membuat kegaduhan di negeri Pancasila yang tercinta ini. Jangan dibuat Indonesia ini menjadi Negeri yang penuh perih.

Di mana hati nurani Pak Presiden membawa seorang terdakwa dalam satu mobil. Inilah yang menyebabkan masyarakat semakin marah. Pak Presiden, meskipun Ahok itu teman (sebab jadi Wakil Gubernur DKI saat Anda jadi Gubernurnya,) ada ketidakpatutan dan ketidakpantasan yang dipertontonkan di tengah masyarakat.

Saya khawatir, dan dugaan saya, kegaduhan di negeri ini akan terus terjadi dan semakin meningkat. Apalagi, Pak Presiden seringkali mempertontonkan undangan makan siang dengan sejumlah tokoh di lingkungan Istana Kepresidenan, Jakarta, meski menu yang disuguhkan mungkin masih sederhana menurut bapak. (Saya agak lupa apakah makan siang itu berada di Istana Merdeka, Istana Negara, dan Istana Presiden. Yang jelas berada di lingkungan Istana Kepresidenan).

Beritanya makan siang bersama tokoh agama, tokoh politik, bahkan dengan relawan Joko Widodo, dan lain-lain justru menurut saya akan membuat banyak yang tidak suka. Sebab, tidak sedikit rakyatmu yang kini juga kekurangan makan. Ya, coba cek berapa banyak yang makan ubi atau beras dicampur ubi. Coba tanyakan pedagang ubi, sekarang ini laris. Sebab, harga beras yang mahal dan kebutuhan lainnya juga mahal, sementara penghasilan tidak bertambah.

Saya sedih...sedih..,dan sedih melihat dan mengamati perkembangan negeri yang digenjot pembangunan infrastrukturnya, tetapi kurang mampu menyerap banyak lapangan kerja. Buktinya, banyak PHK, banyak lulusan SMP, SMA dan bahkan sarjana menganggur.

Pertumbuhan ekonomi digembar-gemborkan masih berada pada angka 5 -5,2 persen, tetapi itu dinikmati siapa? Bukti ekonomi yang semakin berat, lihatlah tukang parkir liar semakin banyak, pak ogah di putaran jalan semakin banyak. Saya mohon dan minta kepada Presiden Joko Widodo, hentikanlah akrobat politik yang semakin membuat banyak rakyat tidak suka, termasuk mereka-mereka yang ikut memilih Anda saat Pilpres tahun 2014 yang lalu. Salam saya dari rakyat yang merasa prihatin dengan keadaan sekarang.

Oleh: Mangarahon Dongoran

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post