![]() |
| Photo: Kiri, Hendrik Hermanus Joel Ngantung dan kanan, Basuki Djahja Purnama (Ahok) |
Henk Ngantung : PKI, sedangkan Ahok penista agama dan Pancasila.
Sejarah pernah mencatat bahwa DKI jakarta pernah dipimpin seorang seniman yg berasal dari etnis keturunan Tionghoa yakni Hendrik Hermanus Joel Ngantung alias Henk Ngantung.
Henk sebelumnya pengurus lembaga persahabatan indonesia-china thn 1955-1958. Dengan bakat seni lukisnya yg luar biasa ia juga pernah menjadi ketua seksi dekorasi dlm panitia negara penerimaan kepala2 negara asing pd thn 1957.
Henk dipilih menjadi wakil gubernur pada thn 1960 mendampingi Soemarno oleh Bung Karno. Pengangkatan Henk sbg wagub DKI didukung oleh partai komunis indonesia (PKI). Hal ini didukung karna Henk telah bergabung dlm lembaga kebudayaan rakyat (LEKRA) yaitu sebuah organisasi kebudayaan yg berafiliasi pada PKI.bahkan Henk pernah menjabat sbg wakil sekjen lekra.
Awalnya penunjukan ini mengalirkan protes dari berbagai pihak karna dianggap tdk layak dlm menduduki jabatan tersebut tapi Bung Karno kala itu tetap teguh pada keputusannya. Bung Karno ingin Jakarta dpt tumbuh sbg kota seni dan budaya, tentu saja Henk dianggap melewati kualifikasi tersebut.
Henk diangkat menjadi gubernur DKI Jakarta pd thn 1964 menggantikan Soemarno yg ditunjuk sbg mentri dlm negri oleh Bung Karno. Namun masa jabatannya singkat yakni hanya 1 thn, hal ini dikarenakan terjadinya peristiwa gerakan 30 september 1965.
PKI telah terbukti berkhianat pd NKRI, dan LEKRA organisasi sayap PKI dari kalangan seniman memang bermasalah.
Faktanya memang demikian dua etnis dari Tionghoa ini meninggalkan masalah, begipun dgn Basuki Tjahya Purnama alias Ahok, seperti banyak dilangsir terbukti telah berusaha memecah persatuan dan kesatuan bangsa atas kasus yg telah dia perbuat dgn mencampakan nilai nilai dlm kitab suci agama Islam (Al Qur'an Al Maidah:51).
Sumber: Presidium Alumni 212

Post a Comment