Busana Wanita Dalam Islam

Busana Wanita Islam
Jilbab warna-warni menghiasi deretan etalase toko. Terlihat ibu dengan putrinya sesekali mencoba beberapa helaian jilbab sambil bercermin. Di samping keduanya, terlihat muda-mudi berpakaian Sekolah Menengah Atas (SMA) cekikikan mencoba jilbab Pasmina yang sedang trend. Si pemilik toko bolak-balik melayani pengunjung sambil sesekali mempromosikan mode-mode baru jilbab. “Kami menggunakan jilbab untuk menutup aurat,” ujar salah seorang siswa SMA ketika ditanyai perihal alasan mengguakan penutup kepala.

Wanita muslim identik dengan jilbab yang digunakan untuk menutup aurat. Sebagai manusia, menutup aurat adalah insting dasar yang membedakan manusia dengan hewan. Selain untuk menutup aurat, pakaian juga berfungsi sebagai perhiasan.

Menutup aurat diwajibkan tidak hanya ketika sedang shalat saja, tetapi juga ketika berhadapan dengan orang yang bukan muhrim. Batasan aurat perempuan adalah seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangannya. Batasan ini sudah menjadi ijma’ kebanyakan ulama, sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi. Secara tidak langsung, inilah yang mewajibkan muslimah menggunakan penutup kepala.

Masih di pusat perbelanjaan yang sama, saya bertemu dengan kurang lebih 8 orang muslimah yang sedang menunggu giliran foto studio. Jilbab mereka dipadu padankan dengan rok warna-warni dan juga, ada sebagian yang menggunakan celana.

“Barang siapa yang mengikuti jejak suatu kaum, maka dia termasuk ke dalam kaum itu,” ujar seorang ustad mengawali penjelasannya dengan membacakan sebuah hadis. Berkaitan dengan gaya hidup, hadist tersebut secara tersirat mengingatkan agar umat Islam harus memiliki gaya hidup sendiri, yakni gaya hidup yang islami.

Gaya hidup yang Islami menekankan pada larangan tasyabuh (meniru, mencontoh). Bukan hanya cara berpakaian, tapi tingkah laku juga. Oleh karena itu, tasyabuh dapat dijadikan landasan untuk mengatur tingkah laku, seperti laki-laki yang tidak boleh menyerupai perempuan, begitu pula sebaliknya.

Rambu-rambu secara kaidah fikih dalam berpakaian adalah tidak memperlihatkan aurat. Pada zaman globalisasi, perkembangan fashion berpakaian semakin tak terbendung. Jika wanita muslim ingin mengikuti tren, hal itu tidak dilarang, akan tetapi harus mengikuti kaidah Islam. Perlu diketahui, mengenakan pakaian yang rapi tapi aurat masih terlihat, itu adalah kesia-siaan.

Menutup aurat memiliki makna komprehensif. Bukan hanya masalah ditutupi atau tidak, tetapi juga memperlihatkan bentuk atau tidak. Kita sering melihat muslimah yang memakai pakaian yang serba tertutup, tapi ketat dan menghasilkan lekukan di bagian-bagian tertentu. Hal tersebut, lebih baik dihindari. Karena pada hakikatnya, walaupun ditutupi, tetap saja memperlihatkan bentuk tubuh.

Bagaimana dengan penggunaan celana di kalangan muslimah? inti yang harus dipahami bukanlah tentang memakai celana atau rok. Akan tetapi, kesempurnaan dalam menutup aurat. Banyak muslimah yang menggunakan celana ketat, dan banyak juga yang menggunakan rok transparan. Hal itu tentu belum sempurna dalam menutup aurat.

Pedoman Pakaian Muslimah

Berikut adalah catatan-catatan kecil sebagai pedoman untuk muslimah dalam berpakaian:

Longgar dan Tidak Transparan

Pakaian muslimah hendaknya longgar dan tidak transparan. Jika ketat, bukankah tetap memperlihatkan lekuk tubuh yang seharusnya ditutupi? Begitupun jika transparan, tetap saja pada hakikatnya tidak menutupi. Dalam sebuah hadist disebutkan, terlaknatlah perempuan yang berpakaian tetapi seperti telanjang.

Boleh Menggunakan Sutra, dan Larangan Menjulurkan Pakaian

Lain halnya dengan laki-laki, perempuan boleh menggunakan sutra sebagai pakaiannnya. Zainab binti Muhammad, menurut riwayat Anas RA, pernah terlihat menggunakan pakaian sutra yang bergaris.

Salah satu yang dilarang adalah menjulurkan pakaian. Hal ini dinilai sebagai tindakan sombong. Terkait hal tersebut, dikisahkan pada hadist berikut:

Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah, “Bagaimana kaum wanita harus membuat ujung pakaiannya?” Rasulullah menjawab, “Hendaklah mereka menurunkan pakaian mereka sejengkal (dari pertengahan betis kaki).” Selanjutnya Ummu Salamah berkata, “Kalau begitu kaki mereka tetap tampak?” Rasulullah menjawab, “Hendaklah mereka menurunkan satu hasta dan tidak boleh melebihinya.” (HR. An-Nasa’i)

Selain itu, ada juga hadist berikut:

Seorang wanita pernah mendatangi Ummu Salamah dan berkata, “Aku memanjangkan bajuku, lalu aku berjalan di tempat yang kotor.” Ummu Salamah menjawab, “Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘ujung baju itu akan dibersihkan oleh tanah berikutnya.’” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Jilbab Menutupi Dada

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.” Surat An-Nur ayat 31

Jangan Lupa Adab Berpakaian

Jangan lupa adab dalam berpakaian dengan memulai dari sebelah kanan.

“Rasulullah SAW suka memulai sesuatu dengan sebelah kanan, mengambil, memberi dengan tangan kanan, dan beliau dalam segala urusannya senang memulai dengan sebelah kanan.” (HR. AN-Nasa’i)

Sumber: Republikpos

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post