Gosip di tempat kerjaan...

Gossip at Works
Gosip di tempat kerja...
Too bad, but feesl nice...

Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk mengungkapkan tradisi atau kebiasaan gosip di kantor. Kalau mau pakai rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud gosip itu adalah obrolan tentang orang lain; cerita negatif tentang seseorang; atau menggunjing seseorang. Dilihat dari sini, gosip itu kita ketahui sebagai sesuatu yang kurang "pantas" lah. Tapi apa boleh buat, menggosip itu terkadang mengasyikkan bagi sebagian orang. Jadi, meskipun kurang right, tapi feels nice.

Kamus bahasa Inggris pun punya penjelasan yang kira-kira substansinya sama. Bedanya, dalam kamus bahasa Inggris itu tidak ada judgment yang menyatakan bahwa gosip itu pasti punya objek yang negatif. Ini misalnya dikatakan, gosip adalah habit seseorang yang membicarkan orang lain atau peristiwa yang sifatnya sensional. Justru yang dikatakan negatif itu bukan materi yang digosipkan, melainkan kebiasaan gosip itu sendiri. Karenanya, Kamus Advance mengartikan gosip itu dengan: idle atau ill-natured.

Benarkah semua gosip itu jelek? Kalau melihat praktek hidup, tentu saja sulit untuk dijeneralisasikan. Selalu saja ada pengecualian (exception). Maksudnya, ada gosip-gosip yang memang itu normal atau manusiawi. Ada sebuah hasil penelitian yang pernah saya baca tentang ini. Menurut perisetnya, gosip di tempat kerja itu dapat meredakan stress. Ini misalnya gosip tentang klien, gosip tentang wanita cantik atau pria tampan, atau gosip yang lucu-lucu. Tapi gosip juga bisa menimbulkan stress. Ini kalau gosip kita itu sampai pada telinga orang yang digosipkan.

Dalam ajaran akhlak pun dikenal pengecualian ini. Gosip dalam pengertian membicarakan kejelekan orang lain itu memang dikatakan sebagai kejelekan (ghibah), lebih-lebih kalau tidak terbukti. Ini bisa masuk ke dalam fitnah. Tetapi, jika itu dilakukan atas motif yang positif, kadar yang obyektif, dan untuk tujuan yang positif, maka itu dibolehkan. Contoh-contohnya antara lain di bawah ini:

  • Pada saat posisi kita dianiaya oleh seseorang dan kita tidak sanggup melawannya, maka dibolehkan kita membicarakan penganiayaan itu kepada orang lain yang kita perkirakan bisa menghentikan penganiayaan itu.
  • Pada saat kita menjumpai penyimpangan orang lain dan itu sangat berpotensi merugikan orang banyak. Jika kita yang tahu lalu kita mendiamkan, maka tindakan mendiamkan ini juga tidak terlalu tepat. Kita membicarakan penyimpangannya agar ada upaya untuk dihentikan / diperbaiki.
  • Pada saat kita ingin menemukan solusi terbaik atau alternatif dari persoalan yang menghantam kita atau menghantam orang dekat kita. Dibolehkan kita menceritakan kejelekan orang lain melalui rubrik konsultasi atau apa, asalkan tujuannya adalah untuk menemukan pemecahan atau pembekala.
  • Pada saat kita diminta memberi referensi seseorang untuk kepentingan yang besar atau untuk kepentingan orang banyak. Tentu saja yang positif. Dibolehkan kita menjelaskan sisi plus dan sisi minus tentang sosok itu. Tapi tentunya harus fair dan pertimbangan yang bersih dari campur tangan nafsu subyektivisme.
  • Pada saat kita ingin membahasakan prilaku seseorang yang sudah sampai kelewat batas dan itu diperkirakan memberikan efek pelajaran atau efek jera bagi yang lain. Ini misalnya media menyebut seseorang yang menyalahgunakan kekuasaan dengan istilah si koruptor, si penjahat politik, dan lain-lain.

Di luar dari pengecualian di atas, kita nampaknya perlu berhati-hati. Kenapa? Ada bahaya laten yang akan meng-kick balik ke kita. Apa saja bentuk-bentuknya?


Bahaya Laten

Jika menggosip itu sudah benar-benar menjadi habit atau kultur hidup, lebih-lebih lagi jika yang digosipkan itu adalah selalu kejelekan atau kekurangan seseorang, dan tidak ada tujuannya kecuali hanya untuk menggosip, ini bisa mengundang bahaya laten. Menurut kesimpulan Cynthia Shapiro, penulis buku Corporate Confidential, 50 Secrets Your Company Doesn't Want You to Know & What to Do About Them (2005), bentuk bahaya laten itu antara lain:

Pertama, kita akan di-cap sebagai seorang yang kurang loyal. Bahayakah kalau kita sampai di-cap atau diberi label sebagai orang yang kurang loyal? Kalau yang meng-cap itu atasan dan itu dalam lingkungan kerja, tentu bahaya. Apa bahayanya? Bukankah itu loyal dan tidal loyalnya seseorang itu tidak bisa diukur hanya dengan menggunakan perasaan yang subyektif? Bukankah loyal dan tidak loyalnya seseorang itu butuh fakta dan bukti-bukti?

Teorinya memang begitu seharusnya. Tetapi yang sering terjadi bukan seperti itu. Ketika kita sudah dikenal sebagai ratu atau raja gosip atau tim gosip, maka kesimpulan subyektif yang akan dimunculkan oleh atasan adalah, yang kita gosipkan itu pasti kejelekan perusahaan atau atasan. Atasan yang sudah berkesimpulan demikian biasaya tidak langsung mengingatkan kita atau langsung menyerang kita. Ini karena tidak punya bukti hukum juga.

Jadi bagaimana atasan menggunakan kesimpulan subyektivitasnya ini untuk menyerang? Biasanya, kata Cynthia, atasan akan menyalurkannya ke hal lain secara diam-diam sebagai bentuk "pembalasan". Ini misalnya: cepat menunjukkan kemarahan, sentimen, kebencian pribadi, keputusan yang tidak fair, dan lain-lain. Kalau perusahaan sedang punya rencana pengurangan pegawai, nama kita akan dimaksukkan ke daftar pengurangan itu tanpa ada alasannya.

Jadi, meskipun yang kita gosipkan itu bukan selalu kejelekan perusahaan atau atasan, tapi jika sampai kita mendapatkan cap sebagai ratu gosip, raja gosip, atau tim gosip, maka sebutan ini bisa mengundang datangnya kesimpulan orang lain yang subyektif. Jika orang itu punya power, orang itu akan menggunakan powernya secara subyektif pula. Tentu jurus ini hampir tidak akan dilakukan kalau atasan kita itu adalah orang-orang yang punya spiritualitas, emosionalitas dan intelektualitas tinggi atau orang bijak. Tapi perlu kita ingat, berapa sih jumlah orang bijak di dunia ini? Karena jumlahnya sedikit, maka kita perlu berhati-hati.

Kedua, menghilangkan dan mengurangi trust orang lain. Ini bukan hanya atasan, tetapi mitra, kawan, atau teman kita pun akan berkurang trust-nya. Kenapa? Kalau kita sudah dicap sebagai penggosip desas-desus, maka kemampuan kita dalam menyimpan rahasia orang lain pun menjadi diragukan oleh orang lain. Karena itu, ajaran agama mengingatkan, janganlah kita bergembira ketika diajak menggosip (membicarakan kejelekan orang lain) oleh orang lain. Kenapa? Orang yang sudah biasa menceritakan kejelekan orang lain di depan kita biasanya akan menceritakan kejelekan kita juga kepada orang lain.

Memang ini tidak semuanya begitu. Hampir tidak ada orang yang belum pernah menceritakan kejelekan orang lain di depan orang lain (dalam pengertian umum dan manusiawi). Karena itu, kaidahnya adalah kadar kebiasaan. Maksudnya, jangan sampai kita tidak pernah mengerem kebiasaan menggosip orang lain ini atau merasa semakin nikmat dengan menggosip sehingga kebiasaan itu menjadi cap atau label yang tepat untuk diri kita.

Ketiga, merentankan posisi kita atas berbagai tuduhan. Ada pengalaman kita yang sudah pernah ditulis Mark Twin. Ia menulis yang maksudnya kira-kira begini: rumor, desas-desus, atau opini negatif tentang seseorang atau tentang sesuatu itu punya kecepatan menyebar yang cukup tinggi. Bahkan saking cepatnya, terkadang sampai tidak bisa dikontrol. Ia menyebar kemana-mana dan menembus batas apa saja. Jika rumor atau desas-desus itu dirasakan merugikan orang lain, maka yang akan menjadi tertuduh pertama kali adalah kita. Meskipun belum tentu kita yang menyebarkan, tetapi karena kita sudah kena cap si penggosip, orang tidak mau pusing untuk menemukan siapa penyebar desas-desus itu.

Di luar dari penjelasan di atas, bahaya laten lainnya adalah menghilangkan citra profesionalitas. Orang yang jarang menggosip memang tidak lantas punya citra yang kuat sebagai seorang profesional. Tetapi, kebiasaan menggosip bisa menghilangkan citra keprofesionalan (trust dan kredibilitas). Ini karena, salah satu ciri yang melekat terkait dengan keprofisionalian seseorang itu adalah efektivitas dan efisiensi dalam berkomunikasi. Komunikasi yang efektif dan efisien itu adalah komunikasi yang membuahkan keputusan atau arahan (decision and direction) dan prosesnya dilakukan dengan cara saling menghormati atau asertif. Ini semua tidak ada dalam gosip.

Gosip tidak membuahkan keputusan, tidak membuahkan arahan dan prosesnya dilakukan dengan cara tertutup atau membelakangi. Karena itu, secara HAM-nya sering dikatakan, ketika kita menggosip (menceritakan kejelekan orang lain di depan orang lain dengan tujuan hanya untuk menjelekkan), maka kita telah melakukan kejahatan ganda sekaligus. Kejahatan pertama adalah kita telah membuat opini tentang orang lain tanpa memberikan kesempatan orang itu untuk menjelaskan dirinya atau membela diri. Kejahatan kedua, tentunya itu dosa.


Gosip & Budaya Perusahaan

Kalau melihat kebiasaan yang sudah umum, topik yang paling hot untuk digosipkan di tempat kerja itu antara lain: atasan (dari berbagai segi, terutama yang jelek-jeleknya), kebijakan perusahaan, teman kerja (biasanya soal kepribadian, sifat, atau sikapnya), teman, keluarga atau mitra atasan, klien atau mitra perusahaan.

Lalu kapan biasanya gosip itu sangat nikmat? Prime time -nya adalah: saat datang ke kantor pagi-pagi, istirahat makan siang, menjelang waktu pulang atau saat waktu pulang (lebih-lebih kalau pulangnya rombongan), saat ada acara di rumah seorang karyawan (misalnya nikahan, atau ulang tahun), atau saat ada pertemuan di luar perusahaan meskipun itu agenda perusahaan (misalnya training, tugas pemasaran, Outdoor Promotion, dll).

Oh ya, kenapa atasan tidak masuk di sini? Apa memang tidak ada atasan yang suka gosip bawahan? Ada juga sih atasan yang menggosip bawahan, tapi ini jumlahnya sedikit dan biasanya hanya dilakukan dalam kondisi yang sangat spesifik. Misalnya saja saat ada pertemuan antaratasan atau asosiasi. Dan lagi, atasan 'kan punya kekuasaan untuk mengubah "nasib" seseorang. Untuk apa juga pakai menggosip segala? Di samping itu juga frekuensi interaksi dan intensitas kesibukannya.

Namun demikian, menurut sebuah studi, mewabahnya tradisi gosip di kantor itu tidak lepas dari sepak terjang atau efek kebiasaan para atasan. Ini terkait dengan penanaman kultur (corporate culture). Kultur perusahaan itu ada yang disebut kultur lemah dan ada yang disebut kultur kuat. Dalam teorinya, seperti yang ditulis Edgar H. Schein (Organizational culture and Leadership, 1992), kultur perusahaan itu bersumber dari tiga hal berikut ini:

  • Nilai-nilai kehidupan yang dianut, bentuk-bentuk keyakinan tertentu & asumsi dari para pendiri organisasi.
  • Pelajaran dari pengalaman orang-orang dalam organisasi sesuai dengan dinamikanya.
  • Nilai-nilai baru, keyakinan baru, dan asumsi baru yang dibawa-masuk oleh kelompok baru atau pemimpin baru ke dalam organisasi


Lalu apa hubungannya dengan budaya kuat dan budaya lemah itu? Oh ya, yang disebut budaya kerja itu adalah "How people behave in the workplace?" Ini beda dengan nilai dan beda lagi dengan iklim (climate). Nilai adalah apa yang dibawa seseorang (terutama atasan ke kantor). Iklam adalah apa yang dirasakan seseorang di kantornya. Nah, kembali ke soal budaya itu, kata "how" di atas punya pengertian, sejauhmanakah behavior seseorang itu mencerminkan nilai-nilai yang dianutnya.

Jika antara behavior dan nilai itu match, maka disebut budaya kuat. Tapi jika nilai-nilai itu hanya diucapkan di meeting atau hanya di tempel di tembok atau di desktop, ini disebut budaya lemah. Semua organisasi punya budaya dan nilai-nilai yang dianut. Misalnya saja: keterbukaan, kejujuran, kerja keras, inovasi, kreativitas, kebersamaan, saling menghargai, dan lain-lain. Cuma yang jadi persoalan bukan itu-nya, melainkan sejauhmana nilai-nilai itu dipraktekkan.

Hubungannya dengan gosip adalah, semakin kuat orang-orang yang ada di dalam organisasi itu mempraktekkan nilai-nilai bersama yang disepakati, semakin berkuranglah tradisi gosip itu. Sebaliknya, semakin lemah kita memedomani nilai-nilai itu, berarti semakin mewabah. Ini kalau dilihat dari sisi gosip sebagai fenomena sosial dalam organisasi.

Jadi kalau dijelaskan dalam perspektif yang lebih luas, habit menggosip itu ada yang memang muncul dari orangnya (internal) dan ada juga yang muncul dari lingkungannya (faktor eksternal). Orangnya sebagai penentu, sementara lingkungannya sebagai pendukung.

Karena kita sebagai penentu, maka kita tetap bisa mengerem / memproporsionalkan habit kita untuk menggosip meskipun lingkungan kita-katakanlah- mendukung untuk menggosip secara besar-besaran. Toh, jika gosip kita sampai membuat orang lain merasa perlu untuk meng- kick balik, yang akan menjadi sasaran bukan lingkungan, melainkan kita sendiri.

Semoga bermanfaat.

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post